Perjalanan Asal Para Pendatang yang Positif Omicron di Indonesia

Pemerintah mengimbau masyarakat tidak melakukan perjalanan ke luar negeri untuk mencegah penularan varian Omicron. Musababnya, sebanyak 68 kasus infeksi Omicron yang terjadi di Indonesia, sebagian besar ditemukan pada orang yang baru datang dari luar negeri.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmidzi mengingatkan agar masyarakat menunda perjalanan ke luar negeri karena risiko penularan yang besar. Kalaupun sedang berada di luar negeri, tetap disiplin protokol kesehatan. “Sudah terjadi kasus transmisi lokal, artinya risiko penularan di masyarakat juga sudah ada,” kata Siti Nadia dalam keterangan tertulis Kementerian Kesehatan pada Kamis, 30 Desember 2021.

Dalam waktu dua pekan atau sejak 12-26 Desember 2021, telah terdeteksi 46 kasus Omicron di Indonesia. Sebanyak 15 orang di antaranya adalah pelaku perjalanan dari Turki. Ada pula kasus konfirmasi Omicron yang berasal dari pelaku perjalan luar negeri lainnya, yakni dari Inggris, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Jepang, Malaysia, Malawi, Republik Kongo, Spanyol, Amerika Serikat, Kenya, Korea, Mesir, dan Nigeria.

Sebanyak 74 persen orang yang terinfeksi Omicron sudah mendapatkan vaksinasi lengkap. Dari jumlah itu, 80 persen tanpa gejala atau bergejala ringan, dan 96 persen yang terinfeksi adalah warga negara Indonesia. Hingga 29 Desember 2021, terjadi penambahan konfirmasi Omicron sebanyak 21 kasus yang juga dari pelaku perjalanan luar negeri. Dengan begitu, total kasus Omicron di Indonesia saat ini sebanyak 68 orang.

World Health Organization atau WHO menyatakan Covid-19 varian Omicron memiliki karakteristik penularan yang lebih cepat daripada varian Delta, terutama pada negara-negara yang telah mengalami transmisi komunitas. Di Inggris misalkan, tingkat keparahan varian Omicron mengakibatkan 29 kematian. Estimasi risiko masuk perawatan gawat darurat karena infeksi Omicron 15 sampai 25 persen lebih rendah dibandingkan varian Delta. Sementara estimasi risiko hospitalisasi atau rawat inap selama satu hari atau lebih karena infeksi Omicron 40 sampai 45 persen lebih rendah.

WHO telah mengukur tingkat penularan dan risiko keparahan antara Covid-19 varian Omicron dengan varian Delta. Hasilnya, kemungkinan akan terjadi peningkatan penambahan kasus yang lebih cepat akibat infeksi Omicron. Namun demikian, tingkat penggunaan tempat tidur rumah sakit atau derajat perawatan lebih rendah dibandingkan dengan varian Delta.

Artinya, varian Omicron memiliki tingkat penularan yang tinggi, tetapi risiko sakit berat yang rendah. Meski begitu, masyarakat tetap harus waspada karena situasi dapat berubah dengan cepat.

#pakaimasker #jagajarak #cucitanganpakaisabun #hindarikerumunan #vaksinasicovid-19

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.